Ilmu
pengetahuan dapat memberi dampak positif dan negatif. Ketika ilmu pengetahuan
dimanfaatkan untuk tujuan praktis, manusia hanya memfungsikan sisi hawa
nafsunya saja, sehingga sangat mungkin ilmu pengetahuan diarahkan untuk hal-hal
destruktif. Di sinilah pentingnya nilai dan norma (etika) untuk mengendalikan
hawa nafsu manusia. Etika menjadi ketentuan mutlak yang akan menjadi dukungan
yang baik bagi pemanfaatan iptek untuk meningkatkan derajat hidup, kesejahteraan,
dan kebahagiaan manusia.
Pada zaman
sekarang, aliran humanisme-antroposentris berkembang pesat. Aliran ini memiliki
pikiran kebudayaan materi yang menafikan kehadiran agama, individualisme,
kebebasan, persaudaraan, dan kesamaan. Perubahan kebudayaan
berakibat pada perubahan etika, sebab etika merupakan penilaian terhadap
kebudayaan. Etika mempunyai nilai kebenaran yang harus selalu disesuaikan
dengan kebudayaan karena sifatnya tidak absolut dan mempunyai standar moral
yang berbeda-beda tergantung budaya yang berlaku di mana kita tinggal dan
kehidupan sosial apa yang kita jalani.
Apabila etika
(yang juga dapat diartikan sebagai cara berpikir) mengalami perubahan, maka
perubahan pandangan tentang ilmu pengetahuan juga mungkin terjadi, dan
selanjutnya akan menimbulkan kecenderungan adanya hasrat untuk selalu
menerapkan apa yang dihasilkan ilmu pengetahuan (teknologi) yang dapat semakin
memajukan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan yang semakin maju
tersebut selain akan mendorong ilmuwan untuk lebih berinovasi untuk penemuan
berikutnya, juga akan meningkatkan keinginan manusia yang sampai bersifat
memaksa, merajalela, bahkan membabi buta. Pada akhirnya hal ini berakibat pada
tidak manusiawinya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jika ditelusuri,
krisis kemanusiaan yang ada berpangkal dari krisis etika. Kelangkaan wawasan
dan pengetahuan etika mendorong merajalelanya perusakan yang kemudian mengarah
pada kerusakan dunia dan segala tatanannya. Berawal dari penolakan secara
ekstrim terhadap pikiran tentang Tuhan, keagamaan dan supranatural, pendewaan
terhadap rasio dan materi yang disebarkan secara canggih melalui ilmu
pengetahuan, teknologi serta proses ekonomi, politik dan budaya itulah krisis
kemanusiaan merajalela sebagai konsekuensi logisnya
Menurut para
sosiolog, kerusakan dalam jalinan struktur perilaku manusia dalam kehidupan
masyarakat (krisis kemanusiaan) terjadi pada tiga tingkat, yaitu:
1.
Pada tingkat pribadi
(individu) yang berkaitan dengan motif, persepsi, dan respons (tanggapan),
termasuk di dalamnya konflik status dan peran.
2.
Pada tingkat yang
berkenaan dengan norma, yang berkaitan dengan rusaknya kaidah-kaidah yang
menjadi patokan kehidupan berperilaku Ã
disebut kehidupan tanpa acuan norma (normlessnes)
3.
Pada tingkat
kebudayaan, yakni berkenaan dengan pergeseran nilai dan pengetahuan masyarakat disebut gejala kesenjangan kebudayaan (cultural
lag) Ã nilai-nilai pengetahuan yang bersifat material tumbuh pesat melampaui hal-hal
yang bersifat spiritual sehingga masyarakat kehilangan keseimbangan
Banyak pihak
yang menganggap bahwa krisis kemanusiaan merupakan ‘anak kandung’ dari
modernisme. Masyarakat modern mampu menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi
berhasil mengatasi berbagai masalah, tapi tidak mampu menumbuhkan akhlak yang
mulia sehingga terjadilah krisis kemanusiaan.
Pengamatan para
sosiolog tersebut juga disampaikan oleh Ma’arif (1997) dengan bahasa yang lain,
bahwa modernisme gagal karena ia mengabaikan nilai-nilai spiritual transendental
sebagai pondasi kehidupan. Akibatnya dunia modern tidak memiliki pijakan yang
kokoh dalam membangun peradabannya. Modernisme telah mengakibatkan nilai-nilai
luhur yang pernah dimiliki dan dipraktekkan oleh manusia kini terendam lumpur
nilai-nilai kemodernan yang lebih menonjolkan keserakahan dan nafsu untuk
menguasai.
Anda sedang membaca artikel berjudul
0 comments :
Post a Comment